Pengertian “Ketekunan Orang-Orang Kudus”

Dalam rangkaian EBS online selama ini yang membahas doktrin keselamatan atau TULIP, kita sudah menyelesaikan pemaparan tentang empat huruf yaitu T.U.L.I. secara berurutan. Dan pada hari ini kita akan belajar tema yang berkaitan dengan keselamatan dari huruf terakhir yaitu “P” atau “Perseverance of the Saints” (ketekunan orang-orang kudus). Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan “ketekunan orang-orang kudus?” Apakah ini berarti bahwa orang percaya menjadi terbebas dari kemungkinan jatuh ke dalam dosa? Atau apakah “ketekunan orang-orang kudus” ini merupakan semacam syarat untuk memperoleh keselamatan? Untuk memahami pengajaran ini dengan tepat, mari kita memperhatikan penjelasan berikut ini.

Pada dasarnya pengertian ketekunan orang-orang kudus adalah setiap orang yang sudah menjadi anak-anak Allah melalui peristiwa kelahiran baru (Yohanes 1:12,13, 3:3, 5-6), yaitu mereka yang dipilih oleh Allah dalam kekekalan sebelum dunia dijadikan, yang ditebus dalam sejarah oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, yang juga dipanggil secara efektif oleh Allah melalui kuasa firman dan karya Roh Kudus-Nya ke dalam pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus. Orang demikian selanjutnya pastilah menerima konsekuensi dibenarkan, disucikan, dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diadopsi menjadi bagian dari anggota keluarga Allah. Sebagai pribadi yang telah berada dalam anugerah keselamatan Tuhan, orang percaya akan menunjukkan kehidupan rohani yang bertumbuh dalam iman, menghasilkan buah-buah pertobatan melalui ketekunan untuk hidup secara kudus dan taat kepada Tuhan. Ia akan setia memelihara iman sampai pada akhir hidupnya. Bagi orang demikian berlaku prinsip sekali selamat tetap selamat untuk seterusnya dan selamanya, karena dia sudah dipindahkan dari dalam maut kepada hidup kekal (Yohanes 5:24).

Berlandaskan pada pemahaman demikian, maka ketekunan orang-orang kudus jelaslah tidak mencakup berbagai opini seperti ini: Pertama, tidak berarti orang percaya akan terbebas dari semua tantangan dan kesulitan rohani dalam perjalanan imannya. Yang terjadi adalah sebaliknya. Segala kesulitan, tekanan, tantangan dan pergumulan bakal semakin berat dirasakan oleh orang percaya yang sungguh-sungguh mau hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada kehendak dan kebenaran Tuhan. Dunia yang sudah berdosa dengan segala tipu daya pencobaannya, keberadaan Iblis yang tidak pernah berhenti melancarkan godaannya, akan membuat iman orang percaya senantiasa berada dalam suasana peperangan rohani. Realitas demikian justru menuntut kita untuk benar-benar bertekun dalam menjalani kehidupan iman. Yang perlu kita lakukan adalah terus bersandar dan mengandalkan Tuhan untuk menghadapi semua tantangan yang bisa melemahkan kerohanian kita.

Kedua, tidak berarti bahwa pengikut Kristus terbebas dari kemungkinan jatuh ke dalam dosa hanya karena mereka sudah menjadi orang percaya. Kita tidak kebal terhadap segala pencobaan dan godaan baik yang datang dari luar diri kita maupun yang ditimbulkan dari dalam diri kita sendiri. Kita harus waspada terhadap peringatan yang diberikan Yakobus, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:14-15). Ketidak-kebalan orang percaya dan kerentanannya dalam berhadapan dengan pencobaan menunjukkan kenyataan bahwa selalu ada potensi dan kemungkinan bagi orang beriman untuk bisa jatuh dalam dosa. Kita harus terus bersikap waspada dan jangan sampai meremehkan hal ini. Kita adalah orang lemah. Sebab itu, ketekunan orang kudus merupakan panggilan untuk berfokus pada Tuhan, melatih kepekaan rohani sehingga kita dapat mengalami kuasa-Nya yang melepaskan kita dari segala yang jahat.

Ketiga, ketekunan orang-orang kudus sama sekali bukan syarat untuk mendapatkan keselamatan melainkan menjadi bukti bahwa orang yang percaya pada Kristus tersebut sudah hidup dalam keselamatan. Dalam Alkitab, posisi selalu mendahului aksi. Tuhan Yesus mengatakan di Matius 5:14 dan 16, kamu adalah terang dunia. Ini menyatakan posisi atau identitas kita. Konsekuensi berposisi demikian adalah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang. Ini adalah aksi atau perbuatan dan perilaku hidup kita. Prinsip ini menegaskan bahwa posisi yang menentukan aksi. Kalau kita ber-aksi atau berbuat sesuatu maka seharusnya aksi tersebut menyingkapkan posisi kita. Dengan demikian, kita hanya bisa membuktikan apa yang sudah kita miliki. Orang percaya tidak mendapatkan keselamatan karena ia hidup dalam ketekunan dan kesalehan. Justru sebaliknya, karena sudah diselamatkan, sebab kehidupan kekal dari Allah telah menjadi milik kita, maka itulah yang menjadi alasan kita harus bertekun di dalamnya. Kehidupan kudus sebagai buah dari ketekunan orang percaya menjadi bukti nyata bahwa dirinya sudah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Jadi, ketekunan orang-orang kudus adalah panggilan Allah bagi setiap orang percaya agar ia dapat memuliakan Allah dalam seluruh hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s