Ibadah Yang Dibatasi Ruang dan Waktu – 1

Penyembahan adalah realitas rohani yang sangat esensial dalam kehidupan orang yang sudah diselamatkan Tuhan. Dalam Alkitab, karya penyelamatan yang dikerjakan Allah selalu berakhir pada penyembahan terhadap diri-Nya. Ini merupakan kebenaran yang sudah disingkapkan sejak dari Perjanjian Lama. Allah memerintahkan Musa untuk berkata kepada Firaun demikian, “TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun” (Keluaran 7:16). Jadi jelas sekali bahwa umat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir dengan satu tujuan yaitu untuk menyembah Allah. Paulus juga menyatakan kebenaran yang sama ketika ia menuliskan “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20). Sebagai kaum tebusan Tuhan, orang Kristen harus menyembah dan memuliakan Allah dengan seantero kehidupan kita.

Berbicara tentang ibadah atau penyembahan kita kepada Tuhan, maka topik ini dapat dipahami dari dua aspek yaitu ibadah dalam konteks yang lebih spesifik atau sempit dan ibadah dalam cakupan yang lebih luas. Ibadah yang lebih spesifik mengacu pada kegiatan rohani yang ditentukan oleh ruang, waktu dan tatanan liturgi tertentu. Misalnya setiap hari Minggu orang Kristen datang pada waktu yang terjadwal untuk mengikuti serangkaian ritual penyembahan dalam kebaktian di gereja. Sedangkan ibadah dalam pengertian yang lebih luas merujuk pada seluruh kehidupan orang percaya sebagai suatu kehidupan di hadapan Allah. Kita hidup dalam pergaulan dan interaksi dengan Allah pada setiap detik, setiap langkah, di semua tempat dan dalam segala bentuk kegiatan kita. Ini adalah panggilan hidup orang Kristen yaitu untuk dapat menyembah dan memuliakan Tuhan melalui segenap aspek kehidupan kita.   

  Ketika kita datang beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu dengan mengikuti kebaktian di gereja, setidaknya ada dua hal yang sangat perlu kita perhatian agar dapat mengikuti ibadah yang bersifat lebih spesifik ini dengan baik.

Pertama, kita harus mengerti aspek transendensi dan imanensi Allah secara seimbang. Transendensi adalah kebenaran tentang Allah yang menekankan unsur keagungan-Nya, kekudusan, kedaulatan, kemahakuasaan dan ketidakterbatasan Allah. Aspek transendensi ini disingkapkan melalui gambaran Allah sebagai Raja yang berdaulat dan berkuasa penuh, sebagai Hakim yang menjalankan keadilan, sebagai Penguasa langit dan bumi yang bersemayam dalam terang kemuliaan yang tidak terhampiri (1 Timotius 6:16). Selanjutnya, imanensi adalah kebenaran tentang Allah yang menitik-beratkan pada aspek kedekatan Allah dengan ciptaan-Nya. Berbagai gambaran yang menyatakan tentang imanensi Allah adalah: keberadaan-Nya sebagai Bapa, penyebutan-Nya selaku Imanuel, kehadiran-Nya sebagai Gembala yang baik. Singkat kata, transendensi adalah realitas tentang kemaha-agungan Allah (Greatness). Sedangkan imanensi adalah kenyataan tentang kemahabaikan Allah (Goodness). Kedua aspek ini selalu menyatu pada Allah. Allah senantiasa bersifat transenden dan imanen pada saat yang bersamaan.

Mengenai kedua aspek yang tidak terpisahkan pada pribadi Allah ini, Alkitab jelas mengajarkan prinsip keseimbangan yang harus senantiasa dipertahankan pada saat kita berrelasi dengan Allah. Penyebutan tentang “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu” di Matius 6:9 memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus menekankan dan mementingkan perihal keseimbangan tersebut. Istilah “Bapa kami” sebagai ungkapan yang ditujukan kepada Allah secara nyata menunjukkan aspek imanensi Allah. Kata “Bapa” adalah panggilan yang paling personal, dekat dan akrab terhadap Allah. Dalam iman Kristen, Allah bukan figur ilahi seperti diktator bengis, penguasa kejam atau raja yang keji. Tetapi Allah adalah Bapa yang penuh kemurahan, Ia mengasihi, memelihara dan peduli terhadap manusia. Selanjutnya, kata-kata “yang di sorga” dengan tegas menyatakan aspek mengenai transendensi Allah. Berbagai konsep tentang kekudusan, kemuliaan, keagungan, kedaulatan, kemahakuasaan Allah sudah terangkum di balik istilah “di sorga” itu. Jadi, kalimat “Bapa kami yang di sorga” jelas sekali menitik-beratkan kebenaran bahwa Allah itu adalah pribadi yang unik, tidak ada bandingannya sama sekali (Yesaya 40:25). Allah adalah pencipta, Dia tidak selevel dengan ciptaan-Nya. Ia berdaulat penuh terhadap segenap karya ciptaan yang ada.

Pemahaman tentang keseimbangan transendensi dan imanensi Allah ini berimplikasi penting terhadap sikap kita tatkala datang menyembah-Nya. Dalam ibadah kita, harus ada hati yang gentar yaitu tidak sembarangan dan tidak main-main tatkala mengikuti pelaksanaan kebaktian di gereja. Kita harus memiliki rasa takut dalam arti penuh hormat kepada Allah yang adalah Raja seluruh alam semesta (Ibrani 12:28-29). Namun pada saat yang sama kita juga dapat mengalami sukacita, damai sejahtera, tenang, nyaman dan menikmati kehadiran Tuhan sebagai Bapa kita dalam penyembahan tersebut. Ibadah adalah perihal yang serius di mata Tuhan. Karena itu, kita benar-benar perlu menyiapkan hati kita, memohon pengampunan dosa, melatih kepekaan rohani untuk mengondusifkan diri dalam mengalami dan menikmati hadirat Tuhan yang mahamulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s