Perlukah Kita Berdoa Syafaat?

Pada kesempatan pelajaran EBS kali ini, kita akan membahas tentang doa syafaat. Kata syafaat tertulis dalam 1 Timotius 2:1. Di ayat ini, Paulus mengatakan demikian, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang.” Sebenarnya, apa pengertian dari doa syafaat itu? Apakah orang percaya perlu melakukan doa syafaat? Simaklah penjelasan berikut ini.

Pertama, doa syafaat adalah doa yang dipanjatkan kepada Allah demi untuk kebutuhan dan kebaikan orang lain. Selain berorientasi pada sesama, syafaat juga merupakan doa yang isinya mendoakan segala kepentingan yang berhubungan dengan perkembangan dan kemajuan kerajaan Allah di dalam dunia ini. Orang percaya yang melakukan doa syafaat, sampai pada titik tertentu sudah menjalankan perintah agung Tuhan Yesus. Yaitu tentang mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti yang tercantum di Matius 22:36-40. Karena hati yang tergerak oleh kasih, maka kita baru bisa secara tulus mengingat dan mendoakan beban serta pergumulan orang lain. Dengan hati yang mengasihi Allah, sudah seharusnya kita juga senantiasa berdoa bagi berbagai pekerjaan Allah di dalam dunia ini. Para tokoh Alkitab memberikan contoh bagaimana mereka berdoa syafaat. Misalnya Musa dalam Keluaran 32:11-13, ia berdoa agar umat Israel terluput dari murka Allah. Daniel juga menaikkan syafaat bagi bangsa Israel di tanah pembuangan (Dan. 9:3-19). Yesus bersyafaat untuk murid-murid-Nya (Yoh. 17). Demikian pula Paulus berdoa bagi kebaikan jemaat Efesus (Ef. 3:16-21).

Kedua, melalui doa syafaat kita disadarkan untuk melihat keberadaan diri kita sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus. Paulus mengatakan “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1 Kor. 12:27). Anugerah keselamatan dalam Kristus tidak pernah menjadikan orang Kristen sebagai pribadi yang individualistis, yang hanya peduli terhadap kesejahteraan diri sendiri semata.  Kehidupan kita selaku anggota dari tubuh Kristus harus selalu ditandai dengan mempraktekkan prinsip interaksi yang bersifat komunal. Yaitu saling mengasihi, saling memedulikan, saling menghibur, saling menopang dan lain sebagainya. Tuhan Yesus juga sangat menekankan aspek komunal kehidupan orang Kristen. Dalam “Doa Bapa Kami” yang tercatat di Matius 6:9-13, ada sembilan kata “kami” yang digunakan. Misalnya “Bapa kami yang di sorga, berikanlah kami, ampunilah kami, janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” dan lain-lainnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa berdoa yang benar tidak boleh terjebak dalam sikap keegosentrisan yang hanya peduli pada kebaikan diri sendiri saja. Lewat doa syafaatlah kita bisa keluar dari perangkap perilaku yang bersifat individualistis tersebut. Semoga kita bisa terus mengingat dan berdoa bagi sesama saudara seiman yang sedang sakit, bergumul dengan pekerjaan atau berbagai himpitan beban masalah lainnya pada saat melakukan doa-doa pribadi kita.

Ketiga, praktek berdoa syafaat juga dapat menyadarkan kita untuk memahami bahwa kita adalah bagian dari anggota kerajaan Allah yang bersifat universal. Melalui doa syafaat kita belajar untuk peduli terhadap pekerjaan dan kepentingan Allah secara global yaitu untuk kebaikan dunia ini. Kalimat kedua dalam “Doa Bapa Kami” berbunyi “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10). Ini menandakan bahwa skala pekerjaan Tuhan itu jauh melampaui segala pelayanan dan persekutuan pada gereja lokal, atau sinodal maupun nasional. Rancangan agung Tuhan adalah mewujudkan kehadiran kerajaan-Nya di dalam dunia ini supaya kehendak dan kemuliaan ilahi bersinar di dalamnya. Kepentingan Allah yang bersifat global ini harus didukung oleh kita yang adalah kaum sewarga dari kerajaan sorga lewat doa-doa kita. Dalam dunia berdosa ini, ada banyak tempat yang sulit ditembus oleh kegiatan pekabaran Injil karena ada kuasa politik yang menghalanginya. Juga ada banyak misionaris yang sedang menderita, tertekan dan tersiksa karena menjalankan tugas memberitakan Injil ke pelosok-pelosok dunia. Begitu pula banyak gereja yang dibakar dan penyelengaraan kebaktian yang dilarang. Sejauh mana hati kita tergerak oleh kepedulian sehingga bisa berdoa syafaat tentang hal-hal demikian?

Kekristenan jauh lebih besar dari hanya sekedar gereja lokal, atau sinode, maupun denominasi tertentu. Kekristenan adalah tentang Kristus yang universal. Sebab itu, di mana ada kepentingan Kristus di dunia ini yang terhambat kemajuan dan perkembangannya, di sana seharusnya hati kita terdorong untuk ikut bergumul dan mendoakannya. Menjadi orang Kristen yang percaya kepada ketuhanan Yesus Kristus yang bersifat universal, semestinya membuat kita memiliki pola pikir rohani dan   kepedulian nurani yang dijiwai oleh kesadaran dan wawasan kerajaan Allah. Bila ini yang terjadi pada kita, maka sudah tentu kita akan terbebas dari semangat berdoa yang egois, terlepas dari keterkungkungan pada hati yang sempit, yang hanya prihatin terhadap kepentingan gereja lokal semata.

Pada intinya, dengan berdoa syafaat, kiranya kita bisa menjadi orang Kristen yang berhati global bukan berhati lokal semata dan jangan sampai berhati individualistis, sehingga kita dapat memiliki kepedulian terhadap semua yang dipedulikan Allah di dalam dunia ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s