Keberdosaan Manusia: Historis dan Universal

Setelah menyelesaikan pelajaran mengenai Doa di sesi pertama yang terdiri dari 15 episode, selanjutnya pada kesempatan EBS online sesi kedua ini, kita akan belajar tentang doktrin keselamatan. Secara lebih khusus kita akan terfokus pada tema mengenai “TULIP.” Istilah ini merupakan singkatan dari lima hal yaitu “T” adalah “total depravity” atau “kebobrokan total” berkaitan dengan keberdosaan manusia. “U” adalah “unconditional election” atau “pemilihan Allah yang bersifat tak bersyarat.” “L” adalah “limited atonement” atau “penebusan yang bersifat tertentu/terbatas.” “I” adalah “irresistible grace” atau “anugerah keselamatan Allah yang tidak dapat ditolak oleh manusia berdosa.” Dan “P” adalah “perseverance of the saints” atau “ketekunan orang-orang kudus.” Kelima tema penting ini akan dibahas satu persatu dalam EBS online kali ini. Sebab itu, mari kita terus mengikuti pelajarannya sampai selesai supaya bisa memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang doktrin keselamatan.

Alkitab mengajarkan setidaknya ada tiga hal mendasar tentang manusia. Pertama, manusia adalah makhluk yang diciptakan (created). Kedua, karena itu ia bersifat terbatas (limited). Dan ketiga, sebagai akibat dari kejatuhannya ke dalam dosa, maka ia menjadi tercemar (polluted). Kondisi sebagai ciptaan yang terbatas merupakan identitas yang sesuai dengan rancangan Allah. Tidak demikian dengan status tercemar oleh dosa. Ini bukan rancangan awal Allah bagi manusia. Pelanggaran dan pemberontakan Adam-Hawalah yang menyebabkan kita menyandang gelar sebagai orang berdosa. Kita semua tidak hidup dalam keberadaan yang seharusnya. Keberdosaan manusia merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Paulus mengatakan “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Semua agama juga mengajarkan ada sesuatu yang salah dan tidak beres dengan diri manusia.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting sehubungan dengan keberdosaan manusia ini. Pertama, keberdosaan manusia adalah realitas yang bersifat historis. Artinya momentum kejatuhan nenek moyang umat manusia yaitu Adam dan Hawa ke dalam dosa pemberontakkan terhadap Allah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi dalam lintasan sejarah, terjadi dalam konteks ruang dan waktu di tengah dunia yang diciptakan Allah ini. Ketidak-taatan Adam dan Hawa dengan melanggar perintah Tuhan di mana mereka memakan buah dari pohon yang dilarang tersebut bukan dongeng rohani atau cerita mitos. Catatan dalam Kejadian pasal 3 tentang keberdosaan manusia itu betul-betul bersifat apa adanya. Kejatuhan ke dalam dosa adalah kecemaran secara moral dan spiritual, suatu fakta sejarah yang suram dan kelam namun riil adanya. Sebagaimana kita tidak dapat menyangkali akan konsekuensi atau dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, demikian pula kita tidak dapat membantah tentang kebenaran kejatuhan yang terjadi pada awal sejarah kehidupan manusia sebagai sumbernya. Hanya kejatuhan ke dalam dosa yang bersifat historis yang dapat membawa akibat destruktif berkepanjang dalam sejarah perjalanan hidup manusia. Kedua, keberdosaan manusia adalah realitas yang bersifat universal. Ini berarti di semua tempat di bawah kolong langit ini dan juga di segala zaman (dari dahulu, sekarang dan di masa mendatang), seluruh manusia adalah orang berdosa tanpa ada pengecualian selain dari Yesus Kristus saja. Alkitab dengan jelas dan tegas mengajarkan bahwa dosa adalah realitas yang bersifat universal. Ini bisa dilihat di 1 Raja-Raja 8:46; Mazmur 14:1-3; 143:2; Amsal 20:9; Pengkhotbah 7:20; Roma 3:1-17, 23. Bukti kuat yang meneguhkan kebenaran tentang universalitas keberdosaan manusia adalah realitas kematian lahiriah yang melekat pada kehidupan kita di muka bumi ini. Firman Tuhan mengatakan bahwa “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Inilah kutukan terhadap kehidupan yang telah tercemar dosa. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meluputkan diri dari cengkeraman kuasa maut. Di mana ada kehidupan, di sana kematian sudah menunggu dalam perjalanan waktu yang telah ditetapkan untuk mengakhiri kehidupan tersebut. Jika dilihat dari perspektif kefanaan, agaknya tidak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa manusia itu hidup untuk mati. Kita tidak bisa menyangkali kenyataan tragis bahwa kematian jasmani senantiasa akan menyertai kehidupan manusia di sepanjang masa. Semuanya ini terjadi sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari keberdosaan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s