Doa dan Janji Tuhan Part 2

Melanjutkan pembahasan kita tentang topik “Doa dan Janji Tuhan,” maka pada sesi kedua ini kita akan mendiskusikan firman Tuhan dalam Markus 11:24 yang mencatat perkataan Tuhan Yesus demikian, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Kesan yang kita peroleh dari ayat ini adalah sepertinya kita boleh berdoa dan meminta apa saja kepada Tuhan, asal kita yakin sepenuhnya, maka Tuhan akan mengabulkannya. Dengan kesan ini, seakan-akan orang Kristen sudah terbebaskan dan tidak perlu peduli lagi tentang apakah isi doanya sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Yang terpenting adalah yakin sepenuhnya, dan doanya pasti akan dijawab oleh Tuhan. Benarkah pemahaman demikian ini? Mari kita ikuti terus pembahasan selanjutnya.

Berdoa dengan benar menurut Alkitab tidak bisa dilepaskan dari dua kualifikasi penting yaitu adanya pendoa yang benar dan isi doa yang benar. Pendoa yang benar adalah orang yang memiliki iman sejati dan relasi personal dengan Allah. Injil Yohanes 15:7 menggambarkan bahwa kita harus tinggal di dalam Kristus, artinya memiliki relasi yang hidup dengan Kristus dan juga firman-Nya harus tinggal di dalam diri kita. Jika realitas ini terjadi dalam kehidupan kita, maka sebagai orang benar kita tentulah mesti menjadi pelaku firman bukan hanya pendengar saja, seperti yang ditegaskan dalam Yakobus 1:22. Janji Tuhan di Markus 11:24 itu selalu berhubungan dengan sikap hidup sebagai orang benar. Ini bisa dilihat pada Markus 11:25 yang mengatakan, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kesediaan untuk mengampuni orang lain adalah tanda kelihatan dari sikap hidup orang benar. Dan ini merupakan salah satu syarat untuk bisa berdoa secara benar di hadapan Allah.

Selanjutnya, berdoa secara benar menurut Alkitab juga sudah pasti tidak dapat dipisahkan dari isi doa yang benar. Firman Tuhan menyebutkan setidaknya ada dua hal yang menandai isi doa yang benar yaitu pertama, berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Ini tertulis dalam 1 Yohanes 5:14 yang berbunyi, “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” Dan kedua, tidak berdoa dengan semangat yang individualistis yaitu untuk memuaskan nafsu pribadi. Ini bisa dibaca dalam surat Yakobus 4:3. Dari penjelasan tentang dua kualifikasi ini yaitu pendoa yang benar dan isi doa yang benar, dapatlah disimpulkan bahwa seorang pendoa yang benar di hadapan Allah tidak akan memanjatkan doa-doa yang isinya tidak benar, yaitu yang bertentangan dengan kehendak dan kebenaran Allah serta yang bersifat egoistis.

Janji Tuhan mengenai pengabulan doa dalam Markus 11:24 ini harus dilihat dari perspektif seperti yang dijelaskan di atas. Sebagai orang benar yang telah berdoa dalam keselarasan dengan kehendak Tuhan, tentu saja kita boleh percaya dan yakin bahwa doa tersebut akan dijawab secara positif oleh Tuhan. Jadi keyakinan tentang pengabulan doa itu harus dibangun di atas landasan adanya kesesuaian dengan kehendak Allah. Dan sama sekali bukan berdasarkan perasaan subjektif kita yang asal yakin, yang pokoknya percaya saja secara sembarangan, tanpa menghiraukan apakah isi doa kita sudah seturut dengan kehendak Tuhan atau belum. Keyakinan dan perasaan subjektif kita tidak mungkin bisa menjadi landasan pengabulan doa. Seandainya Paulus begitu yakin bahkan sampai 1000% pun bahwa permohonan doa tentang pencabutan duri dalam dagingnya itu pasti dikabulkan Tuhan, tetap saja keyakinan Paulus yang begitu luar biasa tersebut tidak akan dijawab oleh Tuhan. Mengapa? Alasannya sederhana, karena itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sinilah kita perlu belajar untuk membangun keyakinan iman yang berdasarkan kebenaran dan kehendak Tuhan, bukan bersandarkan pada perasaan keyakinan yang dikembangkan secara subjektif oleh harapan diri sendiri. Iman yang benar selalu memimpin kita untuk mencari dan mengerti kehendak Tuhan serta menyerahkan diri kita supaya dapat berjalan dalam kesepadanan dengan kehendak-Nya. Orang yang benar akan berdoa secara benar ketika ia berkata “jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak-ku yang jadi.”

Dari dua pelajaran mengenai “Doa dan Janji Tuhan” ini, ada satu prinsip yang perlu kita perhatikan secara serius yaitu jangan pernah menjadikan “Kesan” pribadi kita tentang firman Tuhan sebagai “Pesan” kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s