Christmas Without Christ

Ada perbedaan menyolok antara Natal terdini dan terkini. Natal perdana ditandai dengan kisah sedih tidak ada tempat bagi Kristus untuk lahir (Lukas 2:7). Tetapi pada perayaan Natal sekarang ini, ada begitu banyak tempat yang didominasi oleh suasana Natal. Di gereja, di hotel-hotel berbintang, di restoran tersohor, di berbagai pusat perbelanjaan (seperti mall, supermarket dsb), di rumah mewah dan di banyak tempat lainnya; kita dengan mudah dapat melihat pohon Natal, dekorasi meriah, pernak-pernik yang indah dan mendengar lantunan lagu-lagu bernuansa Natal dalam menyambut perayaan Christmas. Di tengah situasi pandemi Covid 19 pada tahun 2020 ini, walaupun semarak dan atmosfir hari raya Natal tidak semeriah seperti tahun-tahun yang telah berlalu, Namun berbagai perayaan Natal tetap akan ada. Ini sudah menjadi sebuah agenda rutinitas akhir tahun yang telah membudaya.

Sebagai orang Kristen yang memiliki kepekaan rohani, kita perlu bersikap waspada terhadap hal-hal yang sudah menjadi rutinitas yang membudaya. Mengapa begitu? Harus diakui dengan jujur bahwa acapkali hal-hal yang rutin memang berkecenderung kuat untuk membuat maknanya tidak lagi terasa menyentuh. Perayaan Natal tidak kebal terhadap kemungkinan dicemari oleh kondisi tanpa makna spiritual. Bila realitas demikian yang terjadi, maka nampaknya ada kenyataan yang lebih buruk dari kisah sedih “tidak ada tempat bagi Kristus” untuk dilahirkan di Betlehem 2.000-an tahun yang lampau. Kenyataan yang jauh lebih tragis tersebut adalah “tidak ada Kristus di tempat perayaan Natal.”

Ungkapan “Christmas without Christ” atau Natal tanpa Kristus sebenarnya adalah pernyataan yang bersifat kontradiktif pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Natal bisa tanpa Kristus! Tetapi dalam dunia yang berdosa ini, hal tersebut seringkali bisa terjadi. Jika Christmas telah berubah menjadi perayaan yang sama sekali tidak bertalian dengan hati yang berrelasi dengan Kristus, bila perayaan Natal setiap tahun hanya dialami sebagai pelaksanaan ritual kristiani tanpa ada penghayatan spiritual dalam kehidupan orang Kristen; Maka indikasi demikian sudah bergerak mengarah pada kondisi selebrasi “Christmas” tanpa Kristus. Bisa jadi dalam menyambut Natal, hal yang membuat hati kita bersukacita bukan lagi berita seperti yang disampaikan oleh malaikat bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11). Tetapi sukacita itu lebih disebabkan oleh berita diskon besar-besaran yang diadakan oleh berbagai pusat perbelanjaan mewah di masa penghujung tahun ini.

Kekristenan adalah Kristus. Pernyataan ini menunjukkan bahwa landasan kekristenan berpusat pada pribadi dan karya Kristus. Melalui peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia, kita mengetahui dengan jelas bahwa inti dari iman Kristen bertumpu pada satu pribadi yang hidup yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, tanpa Kristus tidak ada kekristenan. Dengan terfokus pada pribadi Kristus, maka iman yang benar selalu merupakan iman yang memiliki relasi personal dengan Tuhan Yesus. Kebenaran ini terungkap melalui perkataan Kristus, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4). Realitas hati yang berrelasi dengan Kristus inilah yang sangat menentukan bahwa walaupun kita melewati perayaan Natal yang bersifat rutin setiap tahun, namun perayaan tersebut akan terus bermakna, tetap berbicara dan senantiasa menyentuh hati serta mampu memberikan pembaharuan rohani kepada orang percaya.

Hati yang berrelasi dengan Kristus setidaknya ditandai oleh dua hal yaitu: Pertama, sikap hati yang reflektif. Artinya dalam menyambut perayaaan Natal, orang Kristen perlu melakukan refleksi rohani berupa penghayatan dan perenungan pribadi terhadap perjalanan imannya dalam mengikuti Kristus selama melewati tahun yang segera akan  berganti ini. Segala berkat Tuhan yang telah dialami, pertolongan ilahi yang diterima, anugerah dan penyertaan-Nya yang senantiasa memberi kekuatan dan penghiburan adalah contoh-contoh di mana orang Kristen mengingat dan menghayati karya Tuhan yang nyata dalam kehidupannya. Dengan melakukan refleksi rohani seperti ini, kita terus diingatkan untuk memiliki sikap yang bersyukur kepada Tuhan. Kedua, sikap hati yang berkomitmen. Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh anugerah Allah, orang Kristen dituntut untuk menjalani kehidupan dalam keselamatan itu agar dapat  menyenangkan Tuhan melalui ketaatannya. Di sinilah kita perlu terus melakukan introspeksi diri dengan bertanya apakah sepanjang tahun ini hidup kita sudah benar-benar memuliakan Tuhan? Apakah selama ini masih ada kekurangan, kelemahan diri yang harus diperbaiki? Introspeksi demikian mestinya dapat menolong kita untuk berkomitmen menjadi orang yang lebih sungguh, lebih giat dan lebih bersemangat lagi dalam mengikuti Kristus di tahun-tahun mendatang.

Menyambut dan merayakan Natal dengan sikap batin yaitu hati yang reflektif dan berkomitmen ini akan sangat bermanfaat bagi orang Kristen dalam menghayati relasi personalnya dengan Kristus Sang Juruselamat itu. Penghayatan spiritual demikianlah yang dapat menolong kita untuk terhindar dari merayakan Natal dengan kondisi yang hambar makna dan hampa relevansi. Semoga setiap kali kita melewati hari Natal, hati kita senantiasa dihangatkan kembali oleh kasih Allah yang rela berkorban demi untuk menebus kita dari belenggu dosa, kematian dan cengkeraman Iblis. Selamat Natal  tahun 2020. Tuhan memberkati kita semua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s