Allah dan Problema Kejahatan Part 4

Di dalam dunia ini tidak ada seorang pun yang mau mengalami penderitaan atau hal-hal yang bersangkut paut dengan problema kejahatan. Ini merupakan kenyataan yang sangat manusiawi sekali. Namun kerapkali kita tidak punya kuasa untuk menolak hal-hal yang buruk agar tidak menerpa hidup kita. Penderitaan dalam berbagai bentuk seperti menjadi korban akibat bencana alam, mengalami sakit-penyakit berat yang merengut nyawa, menghadapi realitas kematian secara mendadak dari orang yang dikasihi, menderita karena ditimpa oleh aneka masalah kejahatan dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semuanya ini adalah seperti “teroris” yang tidak pernah diundang, yang datangnya seringkali secara tiba-tiba dan yang selalu tidak menyenangkan. Kehadirannya dapat menyeret hidup kita ke dalam lembah kesengsaraan. Keberadaannya mengacau-balaukan segala rencana yang sudah tersusun rapih. Perasaan hati kita tercabik-cabik oleh serangannya. Kebahagiaan dan semangat hidup dirampas oleh cengkeramannya. Betapa tidak berdayanya diri kita tatkala berhadapan dengan penderitaan yang disebabkan oleh problema kejahatan.

Ketika masalah kejahatan menyentuh kehidupan kita secara personal, maka hanya ada dua pilihan yang terbuka bagi kita dalam menghadapi penderitaan itu. Kita akan menghadapinya bersama dengan Allah atau tidak bersama dengan Allah. Kita perlu menyadari bahwa hidup ini dirajut oleh serangkaian pilihan. Pilihan-pilihan tersebut menentukan arah dan kualitas hidup kita. Philip Yancey dalam bukunya “Di manakah TUHAN Di Saat Kita Menderita” halaman 65-66 mengatakan, “…jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri kita dan kita tidak memiliki kuasa untuk mengontrol tragedi yang menimpa kita, kita masih dapat memilih sikap dalam bereaksi. Kita dapat tenggelam dalam kepahitan dan kemarahan akan ketidakadilan hidup atau kita dapat mencari sesuatu yang baik yang timbul dari penderitaan itu.”

Pilihan untuk berreaksi ada di tangan kita dan pilihan tersebut hanya terbagi dalam
dua kategori: yaitu berreaksi secara negatif-destruktif atau secara positif-konstruktif. Jika kita meresponi penderitaan dengan sikap yang negatif (misalnya meragukan kuasa dan kasih Allah; kecewa, marah, sinis terhadap Tuhan; menyalahkan Tuhan; menjadi pessimis sehingga kehilangan pengharapan, dan lain sebagainya) maka akibat destruktiflah yang akan melanda. Kita akan menjauhkan diri dari hadirat Allah, iman kita menjadi goyah, kerohanian kita tidak bertumbuh dan pada akhirnya penderitaan akan mengalahkan dan menaklukkan kita. Namun bila kita menanggapi penderitaan dengan sikap yang positif (misalnya mengoreksi diri, bersandar penuh pada Tuhan dengan banyak berdoa, membaca dan merenungkan firman-Nya, bergumul dan memohon anugerah kekuatan dari-Nya) maka dampak konstruktiflah yang akan hadir. Kita menjadi semakin dekat dengan Allah, kehidupan rohani kita akan mengalami pembaharuan dari hari ke hari. Pada akhirnya kita dapat mengalahkan sengat penderitaan dengan iman yang teguh karena ada kuasa Allah dan penyertaan-Nya yang dialami secara nyata.

Seorang teolog bernama Dietrich Bonhoeffer pernah menuliskan kalimat yang menggugah demikian “hanya Allah yang pernah menderita yang dapat menolong” (only the suffering God can help). Yesus Kristus adalah “Allah yang pernah menderita” itu. Ia sungguh memahami kepedihan hati manusia yang sedang menderita. Dialah Sang penolong yang akan menyertai kita melewati lembah air mata. Sekarang ini, Kristus telah berada dalam kemuliaan surgawi, duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Satu hal yang menarik adalah Ia naik ke surga dengan membawa bekas luka badani (Yohanes 20:20 & 27; Wahyu 5:6). Apa signifikansi kehadiran Kristus dalam surga dengan tubuh yang ditandai oleh bekas luka? Paul Brand dan Philip Yancey dalam buku “Sesuai Gambar-Nya” halaman 338 menjelaskan maknanya berikut ini: “Mengapa Kristus mempertahankan bekas-bekas luka-Nya? Ia bisa saja memiliki tubuh yang sempurna, atau tanpa tubuh, ketika Ia kembali ke kemuliaan sorga. Namun Ia memilih membawa kenangan kunjungan-Nya ke bumi. Untuk mengingatkan akan waktu-waktu-Nya di sini, Ia memilih bekas luka. Itulah sebabnya mengapa saya berkata Tuhan mendengar dan mengerti kesakitan kita, dan bahkan menyerapnya ke dalam diri-Nya sendiri ~ karena Ia mempertahankan bekas-bekas luka itu sebagai citra melekat kemanusiaan yang terluka. Ia pernah ke sini; Ia memiliki bukti-buktinya. Kesakitan manusia telah menjadi kesakitan Allah.”

Dalam Ibrani 4:15 dikatakan bahwa Kristus “…bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,…” Pernyataan ini sangat benar. Yesus Kristus adalah Allah yang memiliki pengalaman hidup manusiawi. Pengalaman tersebut tidak didapatkan dari sifat kemahatahuan-Nya sebagai Allah tetapi dari detik-detik perjalanan dan pergumulan hidup-Nya selaku manusia sejati. Kristus naik ke surga dengan bekas luka adalah supaya Ia dapat menjadi Imam Besar yang benar-benar mengerti dan peduli terhadap pergumulan hidup manusia. Ia mengerti untuk peduli dan Ia peduli sebab Ia mengerti. Karena Dia pernah merasakan berbagai pencobaan dalam hidup-Nya, maka Dia dapat menolong mereka yang dicobai (Ibrani 2:18).

Bapak, Ibu dan Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan, ketika kita mengalami berbagai pergumulan, penderitaan, sakit-penyakit, pencobaan dan beban hidup yang berat, biarlah iman kita selalu terarah pada Sang Imam Besar yang pernah terluka untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya. Kiranya kebenaran dari Mazmur 34:19 bahwa “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” dapat menjadi pengalaman rohani konkrit yang menguatkan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s