Jika Allah Mahatahu, Mengapa Masih Perlu Berdoa? Part 2

Pada pelajaran kali ini, kita masih meneruskan pembahasan tentang poin-poin selanjutnya yang perlu kita simak berkaitan dengan pertanyaan “Jika Allah Mahatahu, Mengapa Masih Perlu Berdoa?” Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut:

Ketiga, apakah benar kata-kata Tuhan Yesus dalam Matius 6:7-8 bermaksud untuk menyatakan bahwa karena Allah mahatahu, maka kita tidak perlu lagi berdoa? Dua ayat dari Injil Matius tersebut berbunyi demikian: “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Sebetulnya perkataan Tuhan Yesus di sini sama sekali tidak bertujuan untuk menyatakan bahwa doa tidak diperlukan lagi karena Allah sudah mengetahui apa yang kita butuhkan. Yesus memang menegaskan sifat kemahatahuan Allah di ayat 8, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Namun itu bukan untuk menentang kebutuhan berdoa. Bukankah Yesus sendiri mengajarkan bagaimana cara berdoa yang benar seperti yang tercatat di Matius 6:9-13, yang kita kenal sebagai “Doa Bapa Kami.” Jadi, jelaslah sifat kemahatahuan Allah yang disebutkan Tuhan Yesus tidak dimaksudkan untuk meniadakan keharusan berdoa, melainkan untuk menentang sikap berdoa yang tidak benar. Seperti apa sikap ini? Yaitu berdoa dengan cara “bertele-tele.” “Bertele-tele” artinya menggunakan kata-kata yang banyak tetapi tidak jelas maksudnya. Bertele-tele adalah melakukan pengulangan kata atau kalimat yang sama sebagai kebiasaan ritual, yang hanya mengalir dari mulut bibir saja tanpa disertai dengan keseriusan dan beban hati dalam berdoa. Sikap seperti ini dilandasi keyakinan bahwa dengan semakin banyak kata-kata yang diucapkan, dengan semakin panjangnya doa karena rentetan pengulangan yang terjadi, maka semakin besar pula kemungkinan doa tersebut dikabulkan. Sikap atau cara dan konsep keyakinan yang seperti inilah yang ditentang oleh Tuhan Yesus. Orang percaya diajarkan untuk berdoa berdasarkan hati yang berrelasi dengan Allah, sehingga kata-kata yang menjadi isi doanya benar-benar merupakan ungkapan kejujuran nuraninya. Kita bergaul dengan Allah yang mahatahu, karena itu seharusnya doa kita bukan ritual tetapi lebih kepada penghayatan relasional kita dalam mengalami kehadiran-Nya. Selain itu, perlu diketahui bahwa doa yang efektif, doa yang dijawab Allah tidak ditentukan oleh banyaknya kata-kata, oleh indahnya susunan kalimat, oleh rentetan pengulangan yang panjang, dan oleh waktu berdoa yang lama. Tetapi doa yang efektif lebih ditentukan oleh anugerah dan kebaikan Allah yang mengetahui motivasi hati berupa ketulusan, kejujuran, keseriusan dari setiap pergumulan doa-doa kita. Selanjutnya, ada catatan penting untuk dipahami. Peringatan untuk tidak “bertele-tele” tidak berarti tidak boleh melakukan pengulangan doa yang sama. Tuhan Yesus sendiri mengulangi doa-Nya yang sama di Taman Getsemani (Mat. 26:39-44). Peringatan untuk tidak “bertele-tele” juga tidak berarti menentang ketekunan dalam berdoa. Tuhan Yesus malahan menghendaki orang percaya untuk berdoa dengan tekun dan tidak jemu-jemu (Luk. 18:1). Dan peringatan untuk tidak “bertele-tele” pun tidak berarti tidak boleh berdoa dengan durasi yang lama. Injil Lukas 6:12 mencatat bahwa Yesus menghabiskan waktu semalam-malaman untuk berdoa.

Keempat, berdoa kepada Allah yang mahatahu juga bertujuan untuk membaharui pola pikir orang percaya supaya memiliki pemahaman yang benar berkaitan dengan segala kebutuhannya. Apakah yang kita minta itu digerakkan oleh motivasi untuk kepentingan diri yang egois atau benar-benar sesuatu yang bernilai memuliakan Tuhan. Seringkali orang Kristen datang kepada Tuhan dengan merasa mempunyai kebutuhan yang mendesak sehingga perlu diresponi dan dijawab dengan segera oleh Allah. Apakah Allah pasti akan meresponi semua permohonan doa kita dengan selalu memberikan jawaban “Yes”? Belum tentu. Tatkala berhadapan dengan Allah yang mahatahu, Ia tidak pernah akan tertipu oleh segala doa dan permohonan kita. Ia menyelidiki kedalaman isi hati kita. Sebab itu, kita perlu meminta supaya Tuhan menyingkapkan apa sesungguhnya yang ada di lubuk hati kita. Kadangkala apa yang kita rasa sebagai kebutuhan mendasar tetapi sesungguhnya bagi Allah yang mahatahu itu hanyalah keinginan individualistis belaka yang mana tujuannya untuk memuaskan keegoisan kita. Allah yang mahatahu mengenal kita secara transparan, apa adanya, tanpa ada hal yang bisa disembunyikan di hadapan-Nya. Ia tahu kedalaman isi hati manusia secara tepat dan benar. Sebab itu, bergaul dengan Allah yang mahatahu melalui doa adalah perjalanan rohani untuk menata kondisi hati, mengoreksi motivasi yang keliru dan mentransformasikan pribadi yang berdoa. Kita butuh Allah yang mahatahu untuk menyingkapkan segala kesalahan dalam pemikiran, perasaan dan kehendak kita ketika berdoa kepada-Nya. Akhir kata dari pelajaran kali ini adalah sifat kemahatahuan Allah tidak menghapuskan kewajiban orang percaya untuk berdoa kepada-Nya. Ada hal-hal baik yang justru didapatkan orang beriman ketika Ia bergaul dengan Allah yang mahatahu melalui doa. Karena itu, marilah kita mengalami berbagai kebaikan Allah dalam doa-doa kita kepada-Nya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s