Pemilihan Allah Berdasarkan Kemahatahuan-Nya: Benarkah? – 1

Konsep pemilihan tidak bersyarat atau “unconditional election” yang berlandaskan pada kedaulatan dan kerelaan kehendak Allah bukanlah satu-satunya penjelasan teologis berkaitan dengan pengajaran tentang predestinasi atau ketetapan kekal Allah tentang keselamatan manusia berdosa. Dalam diskusi teologia, ada pendapat lain yang dikenal sebagai pandangan arminian yang mengajarkan doktrin pemilihan berdasarkan kemahatahuan Allah. Apa dan bagaimana konsep teologia ini? Mari kita ikuti penjabaran selanjutnya.

Menurut pandangan teologia kaum arminian, predestinasi adalah karya Allah yang memilih dan menetapkan manusia berdosa menjadi orang yang diselamatkan jika mereka ada di dalam Yesus Kristus. Posisi berada di dalam Kristus ini sangat berkaitan dengan pra-pengetahuan Allah mengenai iman mereka yang akan percaya kepada Tuhan Yesus. Dengan kata lain, Allah menunjukkan kemurahan ilahi dengan berlandaskan pada sifat kemahatahuan-Nya yang tidak terbatas itu di mana Ia telah sejak semula mengetahui secara pasti tentang siapa saja manusia berdosa yang akan meresponi tawaran keselamatan yang Ia berikan. Manusia berdosa bisa menanggapi tawaran keselamatan ini secara berbeda. Ada yang menerimanya dan tentu juga ada yang bakal menolaknya. Terhadap mereka yang bersedia menerima pemberian keselamatan tersebut, maka Allah dalam kemahatahuan-Nya menetapkan pemilihan-Nya atas semua orang yang sudah sejak sebelumnya Ia ketahui dengan jelas akan menyambut Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Pengajaran demikian ini dikenal juga dengan sebutan sebagai pemilihan bersyarat. Karena pemilihan dilakukan dengan bersandarkan pada persyaratan penting yaitu respon aktif manusia berdosa untuk beriman dan menerima tawaran anugerah keselamatan di dalam Kristus Yesus. Bagi mereka yang menolak keselamatan yang ditawarkan tersebut, maka mereka harus menanggung konsekuensinya yaitu mendapatkan penghukuman kekal karena ketidak-mauan untuk diselamatkan.

Sebagai tanggapan terhadap pemahaman teologis yang melihat karya pemilihan Allah yang berlandaskan pada kemahatahuan-Nya, berikut ini ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan.

Pertama, konsep pemilihan ilahi yang bergantung pada kemahatahuan Allah ini jelas berpijak pada pemikiran yang tidak sama dengan konsep kerusakan total sebagai konsekuensi dari keberdosaan manusia seperti yang dipahami dalam teologia reformed. Jika manusia berdosa itu sudah mati di dalam dosa dan pelanggarannya seperti yang dikatakan dalam Efesus 2:1, dan bila manusia berdosa benar-benar berada dalam kondisi kebobrokan secara menyeluruh, apakah mungkin orang berdosa tersebut masih memiliki kemauan, kerinduan dan kemampuan untuk beriman kepada Kristus? Pandangan reformed percaya bahwa apabila seseorang yang telah jatuh ke dalam dosa dibiarkan untuk memilih berdasarkan kehendaknya sendiri, maka hasilnya orang itu tidak pernah akan memilih Allah. Satu kenyataan yang meneguhkan kebenaran bahwa manusia berdosa tidak akan memilih Allah jika Allah tidak lebih dulu mencari manusia adalah dari kisah Adam dan Hawa yang menyembunyikan diri mereka dari hadapan Allah (Kejadian 3:8-10). Manusia yang telah jatuh tetap memiliki kehendak bebas dalam pengertian dapat memilih apa yang mereka inginkan. Tetapi masalahnya adalah manusia yang telah jatuh tidak memiliki keinginan atau kecenderungan hati untuk datang kepada Allah. Ia tidak akan memilih Kristus, kecuali ia dilahirbarukan terlebih dahulu. Iman merupakan kasih karunia yang timbul dalam diri manusia yang telah mengalami karya kelahiran baru oleh Roh Kudus. Hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang akan menerima Injil di dalam iman. Orang pilihan memilih Kristus hanya karena mereka telah dipilih Allah. Jadi yang tepat adalah inisiatif, karya dan anugerah Allah semata yang selalu mendahului respon manusia, bukan sebaliknya. Jika dalam pandangan arminian yang berpendapat bahwa manusia dalam keberdosaannya dapat meresponi tawaran keselamatan Allah, maka patut dipertanyakan apakah benar bahwa manusia itu sungguh-sungguh telah mati dalam kondisi keberdosaannya?

Kedua, pemahaman teologia arminian yang meletakkan fondasi pemilihan keselamatan manusia berdosa berdasarkan pada kemahatahuan Allah dengan sendirinya akan membuat manusia berdosa menjadi penentu terpenting sehubungan dengan keselamatan mereka. Pemilihan atau penolakan Allah pada hakekatnya hanyalah suatu respon konfirmasi ilahi terhadap kehendak manusia yang menjadi penentu utama apakah ia memilih Allah atau menolak-Nya. Dalam pandangan teologia arminian ini, nampaknya kedaulatan telah berpindah dari pencipta ke tangan ciptaan. Manusia berdosa yang berhak sepenuhnya dalam urusan memilih untuk diselamatkan atau mengabaikan tawaran keselamatan tersebut. Bukankah konsep ini berseberangan tajam dengan pernyataan Alkitab bahwa “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” (Efesus 1:5)! Poin penting dari firman Tuhan ini adalah kehendak Allah yang menjadi faktor utama dalam menentukan pemilihan-Nya bukan kehendak manusia. Pemilihan bersyarat kaum arminian tidak memberi tempat yang semestinya bagi kedaulatan Allah. Karena ternyata pemilihan ilahi hanya bersifat mengikuti dan ditentukan oleh pemilihan manusia. Dalam konteks ini, keselamatan menjadi suatu upaya kerjasama antara Allah dan manusia. Namun sekali lagi faktor penentu yang bersifat krusial justru ada di pihak manusia.

Ada dua catatan penting lagi yang perlu diperhatikan sehubungan dengan konsep pemilihan yang berdasarkan pada kemahatahuan Allah ini. Pada tayangan EBS online minggu depan, kita akan membahas kedua catatan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s