Apakah Alkitab Itu Unik? – 2

Selain aspek keberagaman tentang waktu penulisan Alkitab yang begitu lama, lalu para penulis yang berbeda latar belakang satu dengan lainnya, dan juga tempat penulisan yang berlainan seperti yang sudah dibicarakan pada EBS online minggu lalu; dalam kesempatan kali ini kita masih akan menjelaskan berbagai unsur keberagaman tersebut yang meliputi hal-hal berikut.

Keempat, penulisan Alkitab juga berlangsung dalam zaman-zaman yang berbeda. Yosua menulis ketika bangsa Israel sedang dalam masa peperangan. Raja Salomo menulis Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung pada saat bangsa Israel sudah dalam kondisi aman dan damai. Daniel menuliskan firman Tuhan tatkala umat Israel sedang ada di tengah kurun waktu pengasingan di kerajaan Babel, jauh dari tanah Perjanjian. Para rasul seperti Paulus dan Yohanes hidup di masa kekaisaran Romawi yang kejam sehingga harus menulis dari dalam penjara dan pulau pembuangan.

Kelima, “suasana hati” (mood) para penulis Alkitab juga berbeda-beda ketika mereka menuliskan firman Tuhan. Yeremia menuliskan berita dari Tuhan dengan hati yang berduka dan penuh ratapan karena segala dosa dan pemberontakan umat Israel (Yer. 8:18, 21, kitab Ratapan). Banyak Mazmur yang ditulis oleh Daud dengan pergumulan jiwa yang berat ketika sedang menghadapi musuh-musuhnya (Mzm. 7, 13, 27 dsb). Juga ada yang ditulis karena ia mengalami pergolakan batin berkaitan dengan dosanya (Mzm. 51). Dan banyak pula yang dibuat karena dorongan hati yang bersukacita (Mzm. 103-108). Salomo menyampaikan wejangan atau hikmatnya dalam kitab Pengkhotbah berdasarkan refleksi pengalaman hidupnya yang sudah begitu sukses secara materi dan kenikmatan hidup di bawah matahari ini (Pkh. 1:1-2). Rasul Paulus menyurati jemaat Galatia dengan kondisi hati yang penuh kegeraman karena pengaruh ajaran sesat yang terjadi di tengah kehidupan jemaat. Ia bahkan menggunakan kata-kata yang sangat keras, yaitu “terkutuklah” bagi orang yang mengajarkan Injil yang bertentangan dengan pemberitaannya (Gal. 1:6-9).

Keenam, Alkitab ditulis dari tiga benua yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Pentateukh yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan ditulis Musa di padang gurun yang ada di wilayah benua Afrika. Kitab Daniel yang ditulis di kerajaan Babel, Injil Yohanes serta 2 surat kiriman kepada jemaat Korintus ditulis dari Efesus di mana tempat-tempat ini ada di benua Asia. Sedangkan surat kiriman ke jemaat Efesus, Filipi, Kolose dan Filemon ditulis oleh Paulus dari dalam penjara di kota Roma, salah satu kerajaan di benua Eropa.

Ketujuh, Alkitab ditulis dalam tiga bahasa berbeda. Hampir seluruh kitab dalam Perjanjian Lama dituliskan dalam bahasa Ibrani. Namun ada juga sebagian kecil yang memakai bahasa Aram seperti Yeremia 10:11, Daniel 2:4b-7:28, Ezra 4:8—6:18; 7:12-26. Dan seluruh tulisan dalam Perjanjian Baru memakai bahasa Yunani.

Kedelapan, Alkitab ditulis dengan menggunakan berbagai kategori bentuk penulisan (literary styles) yang sangat variatif. Aneka bentuk literatur penulisan tersebut misalnya “kisah sejarah” yang mencakup Kejadian, Keluaran, Bilangan, Hakim-hakim, Yosua, 1-2 Samuel, 1-2 Raja-raja, 1-2 Tawarikh, Ezra, Nehemiah dan Kisah Para Rasul. Lalu ada juga “hukum dan peraturan” yang meliputi Imamat dan Ulangan. Untuk kategori “puisi” bisa dibaca dalam kitab Ayub, Mazmur dan Kidung Agung. Sedangkan kitab Amsal dan Pengkotbah termasuk pada golongan sastra “pengajaran hikmat.” Tulisan-tulisan yang berkarakteristik “nubuatan” dapat ditemukan dalam kitab nabi-nabi besar seperti Yesaya, Yeremiah, Yehezkiel dan nabi-nabi kecil yaitu Yoel, Mikha, Nahum, Hagai. Di Perjanjian Baru, ada bentuk penulisan yang disebut sebagai “Injil” yakni Matius, Markus, Lukas dan Yohanes yang memuat narasi tentang kehidupan, pelayanan dan perkataan Yesus Kristus. Gaya penulisan yang dikenal dengan istilah “perumpamaan” banyak dipakai dalam pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sebagaimana tercatat di Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas). Selanjutnya ada kelompok tulisan yang digolongkan sebagai “surat kiriman.” Paulus, Yohanes, Petrus, Yakobus dan Yudas menuliskan surat kiriman kepada jemaat-jemaat yang isinya adalah tentang pengajaran, teguran, nasihat dan penghiburan kepada komunitas orang percaya.

Kesembilan, para penulis Alkitab yang memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam penulisannya masing-masing, jelas dapat menghasilkan karya tulis yang tidak sama. Hal ini terjadi karena ada penekanan khusus yang hendak ditonjolkan berdasarkan sudut pandang teologis yang berbeda dalam mewartakan kebenaran yang ditulis tersebut. Misalnya perbedaan antara Injil sinoptik dengan Injil Yohanes. Ada penafsir yang mengatakan bahwa lebih dari 90% materi pembahasan dalam Injil Yohanes berlainan dengan yang dapat ditemukan dalam Injil sinoptik. Perbedaan ini memperlihatkan keunikan agenda masing-masing penulis Injil.

Kesepuluh, dari kitab Kejadian hingga ke kitab Wahyu, kita dapat melihat ada begitu banyak topik dan pokok permasalahan yang dibicarakan Alkitab. Persoalan-persoalan tersebut sangat nyata dalam pergumulan hidup manusia. Beberapa contoh di bawah ini hanya bersifat representatif bukan komprehensif. Misalnya pembicaraan tentang:

  • Keluarga (pernikahan, perceraian, hubungan suami-istri, mendidik anak)
  • Politik (peperangan, penaklukan, pembuangan)
  • Sosial (perbudakan, rasialisme, hubungan yang tidak harmonis antar ras)
  • Budaya (poligami, okultisme, mempersembahkan anak pada dewa)
  • Ekonomi (perdagangan, perikanan, perkebunan)
  • Aneka ragam dosa (pembunuhan, balas dendam, penipuan, perzinahan, homo-seksualitas, penyembahan berhala, ketamakan, kebebalan)
  • Pembentukan karakter (kejujuran, disiplin, tidak malas, bersyukur)
  • Moralitas (Benar dan salah, dasar pengambilan keputusan, hati nurani)
  • Spiritualitas (relasi dengan Allah, kekudusan hidup, ketaatan)
  • Dan berbagai topik tentang hukum, peraturan sipil, tradisi, ritual keagamaan dan lain sebagainya.

Pemaparan 10 fakta keberagaman tentang Alkitab yang sudah disampaikan pada EBS online minggu lalu dan sekarang ini sebenarnya bisa mendorong kita untuk bertanya; Seperti apakah benang merah yang mengikat dan mempersatukan realitas keaneka-ragaman sehingga dapat menjadi suatu kesatuan harmonis? EBS Online minggu depan akan menjelaskan jawaban untuk pertanyaan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s