Apakah Doa Dapat Mengubah Kehendak Allah? Part 3

Dalam 2 pelajaran EBS yang lalu sudah dijelaskan bahwa kehendak Allah baik yang bersifat dekretif maupun yang bersifat preseptif tidak dapat diubah oleh doa manusia. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa Tuhan tidak menanggapi doa-doa yang diajukan orang percaya kepada-Nya? Apakah Allah adalah seperti figur diktator yang tidak responsif terhadap berbagai seruan dan permohonan manusia? Bagaimana sebenarnya gambaran Alkitab mengenai tanggapan Allah terhadap doa umat-Nya? 

Satu kebenaran amat jelas yang disingkapkan Alkitab tentang Allah adalah bahwa Dia merupakan pribadi ilahi yang justru peduli dan responsif pada doa orang benar. Contohnya, Allah meresponi permintaan Abraham tentang kemungkinan untuk tidak menghukum kota Sodom dan Gomora asal syaratnya terpenuhi. Ini bisa dibaca dalam Kejadian 18:16-33. Lalu terjadilah interaksi mendalam antara Allah dengan Abraham dalam bentuk tawar menawar. Dan pada akhirnya kedua kota bejat tersebut tetap dimusnahkan oleh Tuhan karena syarat minimalnya yaitu jika ada 10 orang benar di sana, tidak bisa tergenapi. Allah di dalam anugerah dan kemurahan-Nya juga meresponi doa raja Hizkia dengan memberikan penambahan umur sebanyak 15 tahun (Yes. 38:1-6). Dalam surat Yakobus 5:17-18 disebutkan tentang doa nabi Elia yang dijawab Tuhan berkaitan dengan permohonan supaya hujan turun atau tidak turun. Dan masih banyak contoh lainnya dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah bersifat responsif terhadap permohonan doa umat-Nya.

Salah satu kisah yang sangat dramatis adalah peristiwa interaksi Musa dengan Tuhan yang tercatat dalam Keluaran 32:1-14. Bagian ini menceritakan Musa yang sedang ada di puncak gunung Sinai untuk menerima kedua loh batu yang berisi 10 hukum Allah. Namun pada waktu yang sama, di bawah gunung Sinai umat Israel justru sedang melakukan dosa penyembahan berhala anak lembu emas. Melihat keadaan demikian, Tuhan berencana untuk membinasakan mereka. Tetapi di saat genting itu, Musa berdoa bagi bangsa Israel agar mereka boleh terluput dari murka dan hukuman Allah. Karena doa Musa, Tuhan tidak melaksanakan rencana pembinasaanNya.

Ada dua hal yang bisa kita dipelajari dari peristiwa ini. Pertama, sekali lagi kita melihat bahwa Allah meresponi doa permohonan Musa dengan mengabulkan apa yang dimintanya. Tuhan bukan pribadi yang menutup diri terhadap seruan doa orang benar. Doa syafaat Musa berdampak atau berpengaruhi terhadap tindakan yang diambil oleh Allah. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa umat Israel bisa terbebas dari penghukuman Allah sebab ada Musa sebagai pengantara yang mendoakan keselamatan mereka. Kejadian ini mengenapi kebenaran yang dikatakan Yakobus bahwa, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16). Sebab itu, sebagai orang percaya, marilah kita terus belajar untuk berdoa secara benar supaya kita bisa melihat dan mengalami kuasa Allah yang dinyatakan melalui doa-doa kita.

Kedua, apakah doa Musa mengubah kehendak Allah? Seringkali perikop Keluaran 32:1-14 dijadikan dasar untuk membenarkan pendapat bahwa doa manusia dapat mengubah kehendak Tuhan. Benarkah demikian? Doa Musa sama sekali tidak mengubah kehendak Allah. Dalam Keluaran 32 ini rencana Allah untuk membinasakan bangsa Israel yang sudah berdosa itu tidak sama dengan kehendak dekretif Allah. Kalau itu adalah kehendak dekretif, maka tidak ada kemungkinan doa Musa dikabulkan.

Para penafsir Alkitab melihat bahwa dalam Alkitab pernyataan Allah tentang penghukuman itu biasanya bersifat kondisional atau bersyarat baik secara implisit atau eksplisit. Artinya, penghukuman akan dijatuhkan apabila bangsa terkait tidak bertobat. Dan jika bertobat maka hukuman tersebut tidak perlu lagi untuk dilaksanakan. Prinsip ini bisa dibaca dalam kitab Yeremia 18:7-11. Kota Niniwe adalah contoh kasus di mana deklarasi penghukuman Tuhan itu bersifat kondisional. Ketika penduduk kota Niniwe bertobat dari kejahatan mereka, maka ancaman penghukuman Tuhan tidak jadi dilakukan.

Pada peristiwa doa syafaat Musa ini, kita melihat bahwa deklarasi penghukuman Allah itu hanyalah niat atau ikhtiar yang bersifat kondisional. Di sini peran Musa selaku mediator sangat krusial sekali. Musa mendoakan keselamatan umat Israel. Dan lewat doa Musa yang sesuai dengan kehendak Tuhan itu, justru kita dapat menyaksikan bahwa Allah telah membuktikan kesetiaan-Nya pada perjanjian-Nya dengan Abraham untuk menjadikan Israel sebagai umat pilihan-Nya. Pada intinya kita melihat bahwa doa Musa, telah mengubah status bangsa Israel sebagai yang sebelumnya dimurkai untuk dibinasakan menjadi bangsa yang sekali lagi beroleh belas kasihan Tuhan. Nampak sangat jelas bahwa doa syafaat Musa merupakan sarana yang dipakai Tuhan untuk menggenapi kehendak dekretif-Nya dan bukan untuk mengubah kehendak tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s